Welcome

Senin, 03 September 2012

Iwan Fals Simbol Gerakan Rakyat


Siapa yang tak kenal dengan Iwan Fals?
Dialah salah satu legenda Indonesia yang telah mendedikasikan hidupnya di jalur musik sejak tahun 1970-an hingga saat ini. Bukan hanya itu, lagu-lagu Iwan Fals pun memiliki karakter kuat yang selalu melekat di hati penggemarnya.

Lirik lagu Iwan Fals kebanyakan mengusung masalah sosial, ekonomi, kemanusiaan, kritik atas perilaku sekelompok orang, bencana alam, dan empati terhadap kelompok marginal serta mengenai lingkungan hidup. Lirik lagu Iwan Fals sangat berbobot karena di tiap liriknya ia selalu mengangkat misi tertentu dan tidak hanya mengikuti tren pasar. Tidak seperti tren lagu saat ini.

Perjuangan Iwan Fals dalam mengumandangkan lagu-lagunya tidak bisa dibilang mudah. Ia memulai kariernya sebagai pengamen dari rumah ke rumah. Ketika album sarjana mudanya mulai banyak digemari, ia pun naik pentas. Banyak tawaran manggung yang datang padanya. Akhirnya, Iwan Fals pun memutuskan berhenti mengamen dan memilih berkarir di blantika permusikan Indonesia.

Tak berhenti di sini, perjuangan Iwan Fals mulai sering mendapat batu sandungan di masa orde baru. Pada masa ini, Iwan Fals sering mendapatkan ancaman dan pelarangan tampil karena diangap mampu memicu kerusuhan. Lirik Iwan Fals kala itu memang banyak yang mengusung kritik terhadap pemerintah dan dianggap terlalu keras pada masanya. Meskipun demikian, Iwan Fals tidak pernah berhenti berkarya..

Melalui tangan dinginnya, banyak lahir karya–karya fenomenal. Ia menyuarakan jerit hati rakyat melalui suara emasnya. Ia menuliskan ratapan hati para kaum lemah melalui lirik-lirik merakyatnya. Ia sentil kebijakan pemerintah melalui lagu-lagu puitisnya. Dialah simbol gerakan rakyat. Dialah simbol suara rakyat yang sering tak didengar kalangan elit politik. Dialah legenda hidup yang seharusnya mampu menginspirasi lahirnya iwan-iwan muda.

Iwan Fals memang sosok putra bangsa yang memiliki impian dan loyalitas tinggi dalam bermusik. Misi yang ia angkat di setiap lirik lagunya membuat Iwan Fals selalu dicintai oleh penggemarnya di berbagai jenjang usia. Semangat yang terus berkobar meski di usia senja, menobatkan Iwan Fals sebagai simbol gerakan rakyat yang sejati..(*)

Senin, 28 Mei 2012

Pernahkah kita memikirkan mereka. ?!
Debu jalanan setia menjadi teman mereka sehari-hari . >,<
Dimana hati nurani kita . !!

Pernahkah kau mendengarkan jeritan mereka . !!
Pernahkah kau bermimpi tentang mereka . !!
Pernahkah kau merasakan apa yang mereka rasakan . !!

Hati tersiksa , perih sudah menjadi hal biasa dalam kehidupan mereka . !!
Lihatlah kebawah ,
Ulurkan tangan kalian , bantulah saudara-saudara kita . !!

Minggu, 20 Mei 2012

May Day





Maaf tuan kami harus turun kejalan
bukan berati kami tak tau aturan
kami hanya ingin sebuah keadilan

kewajiban telah kami tunaikan
hak tidak kami dapatkan


sudah banyak suara kami utarakan
namun hingga kini tiada tuan dengar
apakah engkau buta dan tuli tuan

tuan
PUNYA SEGALA TAPI TAK MAMPU MEMBERIKAN APA-APA
TUBUH-TUBUH TAMBUN YANG TAK JENGAH MENIMBUN RUPIAH
PUN SELAKSA HARTA MELIMPAH RUAH
BIARLAH.....
TUNGGU SAMPAI HIRUPAN UDARA TERASA PENGAP
SUDAH TENTU PERUT MEREKA PASTI akan MELEDAK..

Bila melihat keadaan seperti ini , apakah hati kalian tidak tersentuh . ?
anak-anak yang seharusnya bisa merasakan bangku sekolah dasar , terpaksa mencari makan sendiri .
terlebih ada yang membantu kedua orang tua mereka .


Jumat, 18 Mei 2012

Ku pahat kata lewat Lisan


sinar bulan yang temaram dilembah sunyi, sorak - sorak yang meliuk telah usai di menit lalu, sepak bola itu telah memberi warna sendiri dalam menyimpulkan bahasa ke kompakkan dan kata - kata ku satu saja terimakasih telah berjuang dengan sungguh tim garuda ku kalah 3 - 2 atas Qatar tak mengapa. ku biarkan semua berlalu lalang di hadapangku, aku sosok bukan makhluk kenapaku, ku sebut diri ku sosok karena aku tak terlihat oleh orang orang itu suara ku ada tapi jasadku tak terliat lantas apa dan siapa aku, aku akan jawab aku adalah operator radio yang belajar secara ododidak tak ada guru, aku belajar dengan alam, aku tak bilang aku terjerumus tapi ini jalan hidup dan awal aku tahu, ku pahat kata lewat lisan.
jarum jam berdetak tak tentu arah 2 hari ini aku terkontaminasi dengan 2 hal dalam hidupku tapi biarlah lagi - lagi aku bilang biarin saja toh waktu trus berjalan. Apa yang bisa ku perbuat sekarang dan siapa yang akan melihatku aku terlalu dini untuk merasakannya lagi - lagi tapi - tapi apa dayaku inilah jalan, jalan dimana aku harus terus belajar dan belajar terus belajar tanpa ada rapor hasil uji ini.
ku pahat kata lewat lisan dalam frekwensi tanpa ada yang tahu apakah suara ku terdengar oleh mereka dan mereka memahami ku dalam kata - kataku, sang hari beranjak pada tanjakan tajam hidup itu hidup bukan hidup yang tak hidup aku tak tahu apa ini jalan hidupku, entah berapa kali ku susun kata - kata ku, entah berapa kali ku persembahkan tapi kenapa, kenapa semua ini ada dan ada.  Tuhan idealiskah Engkau dengan takdir dan nasib itu, idealiskah Engkau dengan kebijak’kan - kebijak’kan-Mu atau aku yang tak terjamah oleh-Mu, susunan kata - kata ini aku simpan dalam file ini di lembar telapak tanganku aku dan bintang, aku dan bulan dan aku dengan mimpi hanya mimpi bukan nyata bukan sesuatu yang baik dan aku tak pernah baik.
ku pahat kata lewat lisan
radio apa gambaran tentang benda itu? hmmm entalah aku tak tahu tapi saat ini aku berkecimpung di dalamnya bercanda, berguara dan tak mengerti apa - apa, berusaha untuk mengerti dan memahami apa yang ada di dalamnya, tak ada emas permata di sini yang aku dapat hanya gambaran buram potret kecil kaum kusam menjelajah tanpa samudra, tanpa kapal apa yang bisa buat diri ini bahagia di tengah stres diri, cakrawala menatapku dengan sinis sayu sapa jendela bersua pada lelaku hidup yang bernama bidadari yang berwujud damai tanpa pamrih ku pahat sendiri kata - kataku lewat lisan di bawah kanal yang mengatur frekwensi bernada walau tanpa nada yang yang bisa ku mainkan, aku hanya pemain yang memainkan apa yang harus ku mainkan di dalamnya.
dan entah sampaikan pahatan ini akan terbentuk aku tak tahu  yang bisa kumengerti hanya 1 aku tak bisa mengerti apa - apa biar sang waktu berikan jawabanya. Dan aku telah lelah….!!!

Kamis, 17 Mei 2012

Potret Kaoem Koesam (Indonesiaku)

Setengah berlari, bocah belasan tahun itu seperti bergegas ingin segera tiba di gerbang masuk sebuah objek wisata kenamaan di Kota Padang Panjang. Di tengah hiruk pikuk dan kerumunan banyak orang siang itu, mungkin cuma dia yang terlihat paling bersemangat dalam meluapkan kegembiraannya. Sampai-sampai, ia nyaris menerobos masuk tanpa bekal tiket, sebelum akhirnya direngkuh kembali oleh bapaknya.

Bapaknya adalah Ujang, seorang anggota petugas kebersihan di kota berjuluk Serambi Mekkah itu. Sosok Ujang, sebenarnya sudah tak asing lagi bagi media ini. Hampir di berbagai kesempatan di hari-hari kerja, Ujang kerap kali ditemui di kawasan pasar dan di jalan-jalan, dua lokasi yang merupakan lahan "pariuak barehnya".

Namun, Ujang yang secara kebetulan ditemui di objek wisata siang itu, memang sedikit berbeda dengan Ujang yang pernah didapati di suatu sore, beberapa waktu lalu. Ujang yang biasanya sibuk dengan sampah, siang itu seperti benar-benar ingin melupakan "makanannya" itu. Ujang yang biasanya mengenakan seragam kuning, bersepatu boat dan sebuah topi butut yang nangkring di kepala, siang itu tak ubahnya seperti orang kantoran kebanyakan.

Siang itu, Ujang benar-benar kelihatan rapi dengan stelan kemeja biru kotak-kotak, yang dipadu dengan jeans warna hitam bertuliskan levis disela-sela kantong belakangnya. Kemunculan Ujang siang itu, yang jelas bukan untuk bekerja, apalagi bersih-bersih yang memang sudah menjadi "santapan" hariannya. Ia memiliki tujuan yang sama dengan ratusan pengunjung lainnya. Ingin berlibur dan menikmati rekreasi bersama keluaga tercinta.

"Kalau indak kini, bilo pulo lai diak, sakali satahunnyo mah. Ibo pulo wak jo anak-anak, lah lamo bananyo baharok," kata Ujang setelah cukup lama berbasa-basi.

Dari pengakuan Ujang, kedatangannya bersama istri dan empat orang anaknya, merupakan kali pertama sejak kehadiran dan beroperasinya objek wisata itu. Tingginya harga tiket masuk, merupakan salah satu alasan Ujang, yang mengakibatkan ia tak sanggup untuk memboyong keluarganya. "Utang se sabalik pinggang diak. Bilo pulo ka tapikian untuak nan mode-mode iko ko," ujarnya sembari tertawa ringan.

Apapun alasannya, namun yang jelas Ujang sudah merealisasikan keinginan anak-anaknya, yang setidaknya telah diimpi-impikan sejak dua tahun lalu. Meski hanya sekali dalam setahun, namun figur Ujang sebagai seorang kepala keluarga, sepertinya tak akan tergantikan lagi oleh anak-anaknya. Inilah potret nyata libur kecil kaum kusam, yang teramat manis begitu romantis, walau sekali setahun.

Siapapun dia, apapun profesinya, yang namanya manusia tetap saja butuh yang namanya hiburan, karena memang semua orang punya hak untuk mendapatkan itu. Tak peduli pejabat, konglomerat, aparat, hingga orang-orang melarat sekalipun. Mungkin, hanya intensitaslah yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.[]