Welcome

Kamis, 17 Mei 2012

Potret Kaoem Koesam (Indonesiaku)

Setengah berlari, bocah belasan tahun itu seperti bergegas ingin segera tiba di gerbang masuk sebuah objek wisata kenamaan di Kota Padang Panjang. Di tengah hiruk pikuk dan kerumunan banyak orang siang itu, mungkin cuma dia yang terlihat paling bersemangat dalam meluapkan kegembiraannya. Sampai-sampai, ia nyaris menerobos masuk tanpa bekal tiket, sebelum akhirnya direngkuh kembali oleh bapaknya.

Bapaknya adalah Ujang, seorang anggota petugas kebersihan di kota berjuluk Serambi Mekkah itu. Sosok Ujang, sebenarnya sudah tak asing lagi bagi media ini. Hampir di berbagai kesempatan di hari-hari kerja, Ujang kerap kali ditemui di kawasan pasar dan di jalan-jalan, dua lokasi yang merupakan lahan "pariuak barehnya".

Namun, Ujang yang secara kebetulan ditemui di objek wisata siang itu, memang sedikit berbeda dengan Ujang yang pernah didapati di suatu sore, beberapa waktu lalu. Ujang yang biasanya sibuk dengan sampah, siang itu seperti benar-benar ingin melupakan "makanannya" itu. Ujang yang biasanya mengenakan seragam kuning, bersepatu boat dan sebuah topi butut yang nangkring di kepala, siang itu tak ubahnya seperti orang kantoran kebanyakan.

Siang itu, Ujang benar-benar kelihatan rapi dengan stelan kemeja biru kotak-kotak, yang dipadu dengan jeans warna hitam bertuliskan levis disela-sela kantong belakangnya. Kemunculan Ujang siang itu, yang jelas bukan untuk bekerja, apalagi bersih-bersih yang memang sudah menjadi "santapan" hariannya. Ia memiliki tujuan yang sama dengan ratusan pengunjung lainnya. Ingin berlibur dan menikmati rekreasi bersama keluaga tercinta.

"Kalau indak kini, bilo pulo lai diak, sakali satahunnyo mah. Ibo pulo wak jo anak-anak, lah lamo bananyo baharok," kata Ujang setelah cukup lama berbasa-basi.

Dari pengakuan Ujang, kedatangannya bersama istri dan empat orang anaknya, merupakan kali pertama sejak kehadiran dan beroperasinya objek wisata itu. Tingginya harga tiket masuk, merupakan salah satu alasan Ujang, yang mengakibatkan ia tak sanggup untuk memboyong keluarganya. "Utang se sabalik pinggang diak. Bilo pulo ka tapikian untuak nan mode-mode iko ko," ujarnya sembari tertawa ringan.

Apapun alasannya, namun yang jelas Ujang sudah merealisasikan keinginan anak-anaknya, yang setidaknya telah diimpi-impikan sejak dua tahun lalu. Meski hanya sekali dalam setahun, namun figur Ujang sebagai seorang kepala keluarga, sepertinya tak akan tergantikan lagi oleh anak-anaknya. Inilah potret nyata libur kecil kaum kusam, yang teramat manis begitu romantis, walau sekali setahun.

Siapapun dia, apapun profesinya, yang namanya manusia tetap saja butuh yang namanya hiburan, karena memang semua orang punya hak untuk mendapatkan itu. Tak peduli pejabat, konglomerat, aparat, hingga orang-orang melarat sekalipun. Mungkin, hanya intensitaslah yang membedakan antara yang satu dengan yang lainnya.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar